Oleh: Raka | November 14, 2011

Hmmm…

Tiba-tiba kepikiran buat mulai nulis lagi. Jadi inget terakhir nulis dulu jaman kuliah, jaman masih muda… Jenggot belum ada (memangnya sekarang jenggotan?). Rambut masih item (memangnya sekarang putih?). Gigi masih komplit (memangnya sekarang ompong?) Maaf, gak penting >.<

Well, yg pasti saat ini gw udah berhasil lolos dari rutinitas anak kuliahan, dan berpindah ke rutinitas orang kantoran. Walau nyokap udah mulai sibuk nanyain kapan mau ambil S2, dan itu berarti gw bakal jadi “anak kantoran” (anak kuliahan + orang kantoran). ARRRGGGHHH, rasanya baru aja taon kemaren gw wisuda! (eh, memang baru taon kemaren dink…)

Tapi ya inilah hidup, gw harus terus melangkah maju, bergerak, tumbuh, berkembang (perasaan mirip pelajaran IPA jaman SD tentang ciri-ciri makhluk hidup deh… maaf klo ada yg keinget masa-masa kelam jaman SD dulu ya…). Suka – gak suka, terima – gak terima, waktu bakal terus berjalan. Ada satu kalimat “sok bijak” dari seorang temen gw yang entah dimana rimbanya sekarang (mudah-mudahan dia tenang dimanapun dia berada), bunyinya kurang lebih gini (klo ada kesalahan grammar bukan tanggung jawab gw, yang mau ngoreksi, sampein langsung aja ke orangnya!!!)

Life is a road with no turning point, all You have to do is moving forward until the edge of death. Always do Your best, leave no regret.

Oleh: Raka | Mei 8, 2008

ICE MELTERS on Action

Tadi malem gw bete banget di kosan, berasa pengen ngadem di es… Tapi masa’ gw ngadem ndirian? Gak lucu banget klo gw tiba-tiba muncul di berita pagi bertajuk “Seorang mahasiswa IF ITB dilepas setelah sebelumnya diamankan aparat karena disangka beruang kutub liar” (What the “beep”?).

Setelah kontak sana kontak sini akhirnya ada 4 makhluk IF yang berhasil gw pengaruhi buat berseluncur ria di atas es nan sejuk n menyegarkan, wkwkwk… Keempat warga IF ITB 05 itu adalah vandiboy, adikupak, syvabonsall, n bi’ella (semua merupakan nama samaran, hehehe). Tadinya gw berniat sekalian menurunkan ajian “seluncur-pake’-pantat”, sayang gak ada yang minat…

Kita-kita berencana maen mulai jam 8 malem, ngincer happy hour gitu… Akhirnya bergegaslah gw n syvabonsall, disusul oleh vandiboy n adikupak, sementara bi’ella tanpa dinyana tiba di IP dengan gaibnya!!!

Bi’ella teriak kegirangan “Woooy, ladies night!. Horeee, gw bayar murah!”. “Nyadar donk, lo kan cowo’,” sangkal gw… Akhirnya setelah berhasil meyakinkan penjaga kasir, bi’ella berhasil masuk mengikuti 4 ice melters lainnya. Selain membawa berkah, ternyata ladies night membawa musibah, gw ama syvabonsall kehabisan ukuran sepatu. Akhirnya gw harus rela dengan sepatu kegedean n syvabonsall dengan sepatu imutnya (yang membuat jari kakinya “mengkeret”, kasian…).

Acara seluncur dimulai… Berikut ini review mengenai kelima ICE MELTERS :

syvabonsall : pegangan mulu di pinggir sambil latihan seluncur dikit-dikit… Siapa sangka, ternyata doi punya trauma mendalam dengan arena ice skating. Bahkan beliau pernah bersumpah untuk tidak akan pernah kembali menjejakkan kaki ke bumi per-es-an (hehehe, ngelanggar sumpah nih bu?).

bi’ella : paling semangat belajar jalan! Siapa sangka, ternyata ICE MELTER ber-casing cewe’ atu ini gak pernah maen ice skating (walaupun pernah nyicipin maen ski).  Semangat tinggi dari bi’ella tidak kendur walau bi’ella harus beberapa kali jatuh bangun. Semangat bi’ella!!!

vandiboy : ICE MELTER atu ini play safe banget, di pinggir mulu (walau tanpa pegangan siy).

adikupak : ICE MELTER yang setia memberi wejangan-wejangan kepada bi’ella (kaya’ pelatih pribadi aja)

gw : setelah pada kesempatan sebelumnya sibuk memperdalam ajian “seluncur pake’ pantat”, kali ini gw sibuk menguak rahasia dari suatu posisi yang stabil yang sangat erat kaitannya dengan gravitasi dan gesekan, yaitu DIAM. Maklum, ICE MELTER yang atu ini bukannya punya masalah ama rem blong, tapi justru belum pasang rem!

Sekitar jam setengah 10 malem ICE MELTERS bubar, bi’ella pulang dengan supir angkot kesayangannya (wkwkwk), gw, vandiboy, n adikupak nganterin syvabonsall ke kosannya dengan selamat, baru kemudian berpulang ke peraduannya masing-masing. Sempat terbesit di otak 3 bocah edan ini untuk menyambangi blitz megaplex, namun bayangan bu cia esok hari pada jam 8 pagi memupuskan angan…

Oleh: Raka | April 27, 2008

Wisata KP (part one)

Kamis 24 April 2008, 5 bocah autis IF mencoba untuk berkelana ke kota “sungai-udang” (Cirebon) untuk keperluan wawancara KP.

Kelima bocah tersebut adalah…

Tim KP1

- penulis : bocah autis kelahiran Kalimantan Selatan, kebesaran (red, besar di) Sumatera Selatan, terdampar di Cirebon, terlunta-lunta di Bandung

-David : bocah autis nan saraf domisili Batam dan saat ini sedang dalam masa pengasingan di Bandung

Tim KP2

- Ricky : bocah autis maniak “tribal war” domisili Jakarta dan saat ini berusaha untuk merebut “village” terdekat (red, Bandung)

- Glen : bocah autis asli Bandung maniak “tribal war” (red, turunan Ricky) yang ngebet mati nyicipin empal gentong

- Edo : bocah autis domsili Tangerang. Penulis meyakini bahwa bocah ini jauh lebih autis daripada saudara kembarnya.

———-

05.45

Hari ini dibuka dengan “SIAAAL, GW KESIANGAAAN!!!” dari mulut penulis. Glen udah miskol HP nokia gw mpe baterenya abis n gw gak bangun-bangun juga (sesuatu yang diharapkan dari seseorang yang pernah bangun dari kolong tempat tidurnya tanpa sadar klo dia jatoh selagi terlelap ;D). Dengan penuh kekalapan gw langsung “turn on” Ricky n David buat segera bangun dari status “sleep” (gw gak tau nomor HP Edo). Usai mengingatkan kedua bocah ini, gw langsung mandi-bebek n siap-siap buat berangkat.

———-

06.00

Pak supir travel nelpon gw, “mas, di mana siy? Koq saya cari gak ada?”

gw : bapak di mana?

supir : di belakang ITB

gw : dimananya pak? Saya nunggu di pusdiklat geologi, cisitu lama. Temen saya yang di gerbang belakang ITB, yang deket sabuga itu

supir : iya, saya udah di sabuga, tapi gak ada siapa-siapa…

(GOBLOOOGH!!! Padahal gw udah pesen buat jemput di gerbang belakang ITB, yang deket sabuga. Bukan jemput di sabuga!!!)

gw : duh pak, kan saya bilang di gerbangnya, bukan di sabunganya…

supir : jadi saya muter lagi niy

(GEDUBRAGH!!!)

gw : iya pak…

———-

06.15

Travel dateng ke pusdiklat geologi dengan membawa 3 bocah autis (Edo, Glen, n David) tanpa kurang suatu apapun (kecuali kewarasan yang lazimnya ada dalam diri manusia…). Gw n Ricky tanpa ragu masuk dan duduk di kursi paling belakang. Mari kita berhitung sejenak, berapakah penumpang di dalam mobil?

- 1 orang di depan (supir)

- 2 orang di tengah (Glen n David)

- 3 orang di belakang (Gw, Edo, n Ricky)

Jadi jumlahnya… 7!!! (Hitung ndiri deh, pasti ngerti. Eniwei, sorry ya Glen, hehehe…).

———-

Di perjalanan

supir : mas, bayarnya sekarang aja ya?

gw : iya pak

David : (bisik-bisik) berapa Rak ongkosnya?

gw : gak tau gw…

David : (dengan muka heran) biasa lo bayar berapa?

gw : (dengan muka terintimidasi) gw biasa naek bus

David (dengan muka lebih heran) lo gak tanya dulu?

gw : (dengan muka lebih terintimidasi) gw lupa

David : (dengan muka pengen nelen gw) BEGO!!!

gw : (dengan muka cengengesan minta dilempar dari travel) hehehe…

Akhirnya setelah menanyakan kepada sang supir, dibayarkanlah ongkos travel… Perjalanan berlanjut dengan tenangnya, kelima bocah autis terlelap tanpa tahu aral rintangan apa saja yang siap menyambut mereka nun jauh di sana…

to be continued…

Oleh: Raka | April 14, 2008

This is LOVE

based on true story…

Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya dia isi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua.

Mereka menikah sudah lebih 32 tahun . Mereka dikarunia 4 orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa. Setelah istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ketiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari, Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia gendong istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi Pak Suyatno selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya, Pak Suyatno pulang memandikan dan mengganti pakaian istrinya. Selepas maghrib, dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Sekarang, anak2 mereka sudah dewasa. Tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, keempat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing2. Yang diinginkan Pak Suyatno hanya satu: semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2, anak yg sulung berkata, “Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil, kami melihat Bapak merawat ibu tanpa ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan, Bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.”

Dengan air mata berlinang, anak itu melanjutkan kata2nya, “Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak jika terus berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak seperti ini. Kami janji akan merawat ibu bergantian.”

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka:

“Anak2ku, jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian…” sejenak kerongkongannya tersekat, “kalian yg selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, yg tidak ada satu pun yang lebih berharga dari itu. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini? Kalian menginginkan bapak bahagia. Apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah Swt kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit?”

Meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Mereka juga melihat butiran2 kecil air jatuh dari pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu, ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

this is love…

Oleh: Raka | April 12, 2008

Liburan!!!

Horeee…

Akhirnya weekend, bisa sedikit bernapas lega

Urus KP, terus balik lagi deh ke Bandung

Oleh: Raka | April 10, 2008

Badminton Bodor Bersama (BBB)

Olahraga itu bikin sehat loh…

Bener gak siy? Bener, kecuali buat David (hahaha, sorry gw sebut nama lo di sini Ming!)

Tadi pagi (tepatnya pukul 8), 6 insan IF05 campuran K1 & K2 (penulis, David, Gafur, Diaz, Inay, & Syva) mencoba untuk unjuk kelihaian “menangkis bulu” di GOR Cisitu. Dengan kemampuan seadanya (ada kok dateng, hajar aja) dan percaya diri tinggi (percaya Tuhan kan menolong diri hamba-Nya yang berusaha), maka dimulailah pertandingan bergengsi ini dengan diiringi riuhnya tepuk tangan supporter (bo’ong dink ;p). Pertandingan panjang nan melelahkan ini secara garis besar dapat dibagi menjadi 6 partai…

Partai pertama (David-Inay Vs. Raka-Syva): Partai ganda campuran pembuka ini adalah partai paling melelahkan (sumpah, ternyata ketawa terus-terusan selama 2 set itu cape’ banget!). Partai ini berlangsung cukup imbang, kedua belah pihak ngotot mau menang (ya iyalah, masa’ ngotot rebutan kalah?). Ritual lempar jumroh dengan net sebagai sasarannya berlangsung alot sepanjang pertandingan. Selain itu beberapa kali terjadi insiden penyerangan sepihak yang dilakukan oleh oknum Inay dengan korban partnernya sendiri, oknum David. Insiden penyerangan ini dilakukan secara berkala (lo sengaja ya Nay? Haha…) dengan jumlah penyerangan mengenai sasaran sebanyak (kurang-lebih) 3 kali dan tak terhitung penyerangan yang luput. Kejadian ini memancing ledaknya tawa di kubu Raka-Syva, dan saat ini Komisi Pengawas Pertandingan Badminton Bodor (KPPBB) sedang mengadakan penyelidikan lebih lanjut karena adanya kecurigaan bahwa hal ini merupakan salah satu usaha kubu David-Inay untuk menyabotase pertandingan dengan membuat lawan kebelet pipis. Alhasil partai ini ditutup dengan skor (klo gak salah) imbang, 1-1.

Partai kedua (Diaz-Gafur): Partai ini berjalan tanpa pengawasan seksama oleh penulis dikarenakan partai ini berlangsung bersamaan dengan partai pertama. Namun dapat dipastikan bahwa partai ini berlangsung seru mengingat kedua pemain telah cukup dikenal dengan kepiawaiannya dalam mengayunkan raket.

Partai ketiga (Inay-Syva): Partai ini juga berjalan tanpa pengawasan seksama oleh penulis dikarenakan partai ini berlangsung bersamaan dengan partai ganda putra. Namun menurut pengakuan saudara (eh, saudari) Syva, serangan sengit dari saudari Inay adalah suatu hal yang mustahil untuk dapat dibendung olehnya mengingat saudari Syva sebenarnya telah gantung raket semenjak menjuarai Home Tournament pada awal Januari 2007.

Partai keempat (Diaz-Raka Vs. David-Gafur): Partai ini berlangsung cukup imbang, mengingat masing-masing kubu diperkuat oleh seorang master badminton (Diaz di sudut merah dan Gafur di sudut biru) dan diperlemah oleh seorang yang bercita-cita menjadi master badminton (Raka di sudut merah) dan seorang master badminton yang kurang berlatih (David di sudut biru). Sepanjang partai, service over adalah hal yang biasa mengingat kesaktian kedua kubu dalam memberi perlawanan sengit (sejujurnya siy ini service over gara-gara unforced error :D ). Partai ini berlangsung dengan pace yang cukup tinggi serta positioning kok yang penuh perhitungan sehingga memacu adrenalin siapa saja yang menyaksikan partai ini (sayangnya gak ada siapa-siapa tuh). Di akhir partai, ternyata dewi fortuna berpihak kepada sudut merah sehingga pasangan Diaz-Raka berhasil memenangi partai keempat ini.

Partai kelima (David-Raka (sial…) Vs. Diaz-Gafur): Di awal partai, saudara Raka sempat berpikiran untuk mundur akibat kecilnya peluang menang. Namun saudara David dengan diplomatisnya mampu membangkitkan semangat juang saudara Raka. Tidak banyak yang dapat disampaikan dari partai ini selain kekonyolan, kebodoran, ketololan, kebodohan, kegilaan, serta hoki berlebih pasangan David-Raka yang dengan ajaibnya mampu membawa pasangan ini ke gerbang kemenangan (unbelievable).

Partai keenam (Gafur-Raka Vs. Diaz-David): Sama seperti partai keempat, partai ini juga berlangsung imbang. Namun setelah beberapa kali terjadi pertikaian di kubu Diaz-David (akibat penyerangan oknum Diaz terhadap (lagi-lagi) oknum David), dengan berat hati pasangan Diaz-David harus rela bertekuk lutut di hadapan pasangan Gafur-Raka.

Kesimpulan: Olahraga itu sehat, tertawa itu sehat, tapi olahraga sambil tertawa itu bikin sakit perut (gw bukti hidupnya).

Saran: Ayo, laen kali lebih rame lagi yang maen!

10 April 2008

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.